Di antara fenomena budaya masyarakat yang tumbuh seiring dengan pergeseran paradigma masyarakat dari modernisme kepada posmodernisme adalah kebudayaan konsumer atau konsumerisme. Konsumerisme merupakan ideologi masyarakat posmodern di mana makna hidup ditentukan oleh kegiatan konsumsi material dan kebahagiaan diukur pada hal-hal bendawi.
Dalam kebudayaan konsumer, konsumsi tidak lagi bermakna kegiatan pemenuhan nilai guna, melainkan nilai tanda dengan pola dan tempo pengaturan tertentu, dan inilah hakikat budaya konsumerisme. Dengan demikian, konsumerisme juga dapat dimaknai sebagai budaya konsumsi yang ditopang oleh diferensiasi secara berkelanjutan melalui citra, tanda, dan simbol.
Ia juga merupakan budaya belanja yang didorong oleh logika hasrat (desire) dan keinginan (want), bukan logika kebutuhan (need). Dengan kondisi seperti ini, adagium “I Think Therefore I am” agaknya tidak lagi relevan dan telah tergeser posisinya oleh adagium lain “I Consume Therefore I am“.