MENJADI ILMU: Refleksi Dalam Nasihat-Nasihat Peradaban Jilid 2

Prof. Dr. H. Nur Hadi Ihsan, MIRKH

“Informasi itu harus dikomunikasikan agar menjadi ilmu.”

— Prof. Dr. K.H. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil.

Kutipan dari Prof. Hamid di atas mengandung kedalaman epistemologis yang melampaui pemahaman teknis tentang transfer pengetahuan. Ia menyentuh hakikat ilmu sebagai realitas yang hidup, dan memerlukan proses komunikasi untuk mencapai kesempurnaan ontologisnya. Dalam tradisi Islam, ilmu bukan sekadar data atau informasi yang tersimpan, melainkan pengetahuan yang sampai kepada subjek yang mengetahui melalui proses penyampaian yang sah dan benar. Ini berbeda secara diametral dengan epistemologi Barat modern yang mereduksi ilmu menjadi informasi impersonal yang dapat ditransfer secara mekanis.

Makna Komunikasi Ilmu

Ibn Sina membedakan antara tasawwur (gambaran konsep) dan tasdiq (penetapan kebenaran). Informasi hanya sampai pada level tasawwur: ia memberi gambaran, tapi tidak memberi kepastian. Komunikasilah yang membawa informasi naik ke tingkat tasdiq—menjadi sesuatu yang diyakini, dipertanggungjawabkan, dan dihidupi.

Itulah sebabnya ulama dahulu tidak membiarkan murid belajar sendirian. Kitab dibaca, dijelaskan, didiskusikan, diperdebatkan, dan diformulasikan ulang. Proses itu bukan sekadar akademik; ia spiritual. Sebab ilmu yang tidak dikomunikasikan tidak akan masuk ke dalam diri. Ia hanya lewat di permukaan intelektualitas.

Ibn Khaldun menjelaskan bahwa ilmu berkembang karena ta‘allum (pembelajaran) dan ta‘līm (pengajaran). Dua kata ini menunjukkan komunikasi dua arah: guru kepada murid, murid kepada guru, dan keduanya kepada masyarakat. Tanpa komunikasi, kata Ibn Khaldun, ilmu akan mandek dan peradaban akan beku.

Worldview Islam dan Komunikasi Makna

Pandangan hidup Islam menempatkan ilmu sebagai pusat keberadaban. Wahyu pertama yang turun bukanlah perintah untuk beribadah secara ritual, tetapi perintah membaca, merenung, berpikir, dan kemudian mengajarkan. Semua proses itu adalah komunikasi.

Menurut Prof. al-Attas, ilmu dalam Islam adalah datangnya makna ke dalam jiwa. Makna tidak turun kepada jiwa yang tidak siap, dan tidak mungkin ditanamkan tanpa komunikasi yang tertib, beradab, dan metodologis. Di sinilah letak pentingnya adab: ia menjadi medium komunikasi makna. Tanpa adab, informasi berubah menjadi kebingungan; dengan adab, informasi berubah menjadi ilmu.

Tasawuf melihat komunikasi sebagai proses tazkiyah (pemurnian makna). Seorang sufi tidak sembarang bicara, tidak sembarang mendengar, tidak sembarang menyampaikan. Ia memahami bahwa kata-kata memantulkan keadaan jiwa. Komunikasi yang bersih akan melahirkan ilmu yang jernih. Komunikasi yang kacau hanya melahirkan kegelisahan.

Kegaduhan Informasi Barat

Barat modern membangun peradaban informasi tanpa fondasi metafisik yang kokoh. Dalam dunia sekuler, informasi dianggap netral, padahal tidak ada informasi yang netral. Setiap informasi membawa nilai, asumsi, dan worldview. Bahkan, diam pun membawa makna.

Para pemikir Barat—dari Nietzsche hingga Foucault—mengakui bahwa informasi adalah alat kekuasaan. Tetapi tanpa wahyu sebagai penuntun, mereka tidak menemukan tujuan akhir komunikasi selain dominasi dan kebebasan tanpa batas.

Sayyid Qutb menyebut keadaan ini sebagai “jahiliyyah modern”: banyak suara, tetapi kosong dari hidayah. Banyak bicara, tetapi miskin makna. Banyak informasi, tetapi miskin kebijaksanaan. Inilah kondisi yang membuat manusia modern kehilangan ketenangan, sebab ia hidup dalam lautan data yang tidak pernah menjadi pengetahuan.

M. Iqbal bahkan menyebut modernitas sebagai “kebisingan intelektual”, banyak kata yang tidak menuju kepada Kebenaran. Sebaliknya, Islam, dengan epistemologi dan tasawufnya, menghadirkan kedalaman: kata-kata adalah amanah. Kata-kata adalah jejak jiwa.

Transformasi Melalui Komunikasi

Setiap ulama besar dalam sejarah Islam memahami bahwa ilmu baru hidup ketika dikomunikasikan. Imam al-Asy‘ari mengoreksi Mu‘tazilah dengan hujah-hujah yang jelas. Ibn Taymiyyah menjelaskan penyimpangan filsafat dan tasawuf ekstrem dengan argumentasi yang tajam. Ibn al-Qayyim memformulasikan kembali ilmu jiwa Islam melalui analogi yang lembut dan menyentuh.

Mereka semua bukan sekadar pemikir; mereka komunikator makna. Tanpa kemampuan itu, seluruh gagasan mereka akan tinggal di lembaran manuskrip, tidak pernah meresap ke hati umat, dan tidak menjadi gerakan peradaban.

Prof. Hamid melanjutkan jejak itu di zaman ini: beliau menunjukkan bahwa informasi baru menjadi ilmu jika ia mampu menjernihkan pikiran, menata akal, dan membimbing tindakan. Jika tidak, ia hanya menambah keruwetan.

Bahaya Informasi Tanpa Ilmu

Informasi yang tidak dikomunikasikan dengan benar akan menimbulkan tiga kerusakan besar.

Pertama, kerusakan akal. Manusia merasa tahu, padahal ia hanya mengumpulkan serpihan-serpihan data. Inilah yang disebut para ulama sebagai wahm al-‘ilm atau ilusi pengetahuan.

Kedua, kerusakan hati. Informasi yang tidak terarah membuat manusia cemas, iri, tamak, dan sibuk pada hal-hal yang tidak penting.

Ketiga, kerusakan peradaban. Masyarakat yang penuh informasi tetapi miskin ilmu akan kehilangan arah. Mereka berdebat tanpa dasar, berucap tanpa tanggung jawab, dan mengambil keputusan tanpa hikmah.

Barat telah mengalami ini. Jika umat Islam tidak cermat, mereka akan mengikuti jejak yang sama.

Mengomunikasikan Ilmu Sebagai Ibadah

Dalam Islam, mengomunikasikan ilmu adalah ibadah. Ia bukan sekadar aktivitas akademik, tetapi amal saleh yang menghubungkan manusia dengan Tuhan melalui penjelasan, bimbingan, dan pembentukan makna.

Al-Ghazali menulis bahwa guru adalah “pewaris para nabi” karena ia menyampaikan ilmu yang menyelamatkan manusia dari kebodohan. Malik bin Nabi menjelaskan bahwa kemunduran umat Islam dimulai ketika ilmu tidak lagi dikomunikasikan dengan baik—Ilmu berhenti menjadi energi peradaban.

Tasawuf menambahkan dimensi batin: menyampaikan ilmu berarti menyampaikan cahaya. Kata-kata yang lahir dari hati yang bersih akan masuk ke hati pendengarnya. Sebab itu, komunikasi ilmu membutuhkan ketulusan, kesederhanaan, dan kejernihan.

Penutup: Menjadi Cahaya

Pada akhirnya, komunikasi yang benar bukan hanya memindahkan kata, tetapi memindahkan makna. Ia adalah jembatan antara hati dengan hati, antara akal dengan akal, antara manusia dengan Tuhannya. Sebab itulah informasi harus dikomunikasikan agar menjadi ilmu, agar menjadi sesuatu yang menuntun manusia kepada kebenaran, bukan menyesatkannya.

Di zaman ketika dunia berisik dengan data, umat Islam membutuhkan ketenangan ilmu. Mereka membutuhkan kejernihan akal, kelembutan hati, dan kebijaksanaan para ulama. Itu semua hanya mungkin jika kita kembali menyampaikan ilmu seperti para pendahulu kita: dengan adab, dengan hikmah, dengan kejernihan.

Setiap dari kita adalah lentera kecil di tengah gelap. Cahaya itu baru menyebar ketika disampaikan. Ketika cahaya itu berpindah dari satu jiwa ke jiwa lain, di situlah peradaban dibangun.

Semoga kita termasuk orang-orang yang berkah ilmunya, lembut lisannya, jernih hatinya, dan benar komunikasinya—agar informasi yang kita terima dan kita sampaikan menjadi ilmu yang menerangi langkah kita hingga akhir hayat.

Mantingan, 23 Desember 2025

Prof. Dr. H. Nur Hadi Ihsan, MIRKH

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *