Oleh: Ahmad Rizqi Fadlilah
(PKU UNIDA Gontor angkatan 12, Magister AFI UNIDA Gontor 2022, Doktoral AFI UNIDA Gontor 2025)
Sabtu kemarin (03/01/2026) adalah hari yang berduka. Bukan karena langitnya yang mendung, tapi karena buminya yang kehilangan seorang figur pembawa cahaya. Beliau, Prof. Dr. KH Amal Fathullah Zarkasyi, berpulang kembali ke haribaan Allah. Ustadz Amal, begitu kami menyapanya, adalah cermin pejuang di era modern ini. Darah beliau memang tidak tumpah di medan tempur, tapi tinta beliau menjadi saksi bisu atas perjuangan di jalan Allah melalui jihad intelektual.
Meski tak tahu secara langsung, kami mendengar obrolan sejumlah teman dan senior bahwa ustadz Amal adalah aktor penting di balik pengakuan mu’adalah (penyetaraan) pesantren yang akhirnya dilembagakan dalam regulasi negara. Diakuinya pesantren sebagai salah satu sistem pendidikan di Indonesia ini bukan semata masalah legalitas, ijazah, dan kesetaraan administratif, tetapi pengakuan terhadap model pendidikan Islam yang seperti sering disampaikan Kyai Syukri, Allah Yarham, indigeneous Indonesia. Dalam konteks ini, ustadz Amal seakan hendak berpesan bahwa kolonialisme tidak selalu bekerja lewat senjata, tetapi juga acap kali beroperasi melalui standar pengetahuan, legitimasi akademik, dan hierarki epistemik. Pengakuan mu’adalah juga merupakan perjuangan untuk mendapat rekognisi bahwa pesantren di nusantara ini rupanya berbeda-beda. Bukan dalam bentuk oposisi tapi variasi. Baik itu pesantren tradisional yang berbasis kitab kuning, atau pesantren modern dan mu’allimin ala Muhammadiyah yang meski kitabnya putih tapi tetap mengajarkan dirasah islamiyyah: semuanya adalah pesantren.
Namun, membatasi peran beliau hanya pada ranah kebijakan adalah penyederhanaan. Bagi kami pribadi, sumbangan terbesarnya justru terletak pada wilayah yang lebih dalam: pembaruan kesadaran umat. Di sinilah ilmu kalam, bidang kepakaran beliau, menjadi medan juang yang distingtif, untuk tidak mengatakan unik (kata salah seorang guru kami, kata unik adalah klaim yang berat. Sebab ia bermakna satu-satunya. Sementara distingtif masih membuka kemungkinan dan opsi lain).
Sebagai guru besar, ustadz Amal tidak menempatkan kalam semata sebagai disiplin yang sifatnya defensif, tetapi afirmatif dan konstruktif: mengukuhkan iman sekaligus menjadi motor kebangkitan. Dalam pidato pengukuhan guru besarnya tentang tajdid ilm al-kalam, beliau menunjukkan arah baru: menjadikan ilmu kalam sebagai disiplin reflektif-kritis yang mampu membaca zaman, bukan semata berkutat pada pengulangan perdebatan masa lalu. Jadi, sepemahaman kami, ilmu kalam bagi beliau bukannya museum teologi, tetapi laboratorium peradaban.
Di kelas perkuliahan PKU (Program Kaderisasi Ulama) UNIDA Gontor, ustadz Amal membuat mata kami terbuka bahwa umat Islam hari ini dihadapkan dengan masalah aqidah baru. Tidak lagi berkutat pada soal sifat Tuhan atau status pelaku dosa besar, tetapi dominasi sekularisme, saintisme, kejumudan, dan inferioritas diri di hadapan peradaban asing. Di sinilah ilmu kalam menemukan relevansinya: meneguhkan keimanan di dunia yang skeptis sekaligus membongkar mitos modern di semesta yang katanya sudah canggih secara teknologi ini. Kami jadi ingat apa yang dituliskan oleh Malik Bennabi, “The problem of every civilization is not a problem of means, but a problem of ideas”. Maksudnya, masalah umat ini bukannya pada kurangnya sumber daya, tapi pada krisis ide dan cara berpikir. Artinya, ilmu kalam bisa jadi pintu masuk yang strategis menuju kebangkitan daya ide umat.
Di kelas pascasarjana, mulai dari tingkat magister hingga doktoral, beliau konsisten dengan gagasannya. Kami merasakan sendiri bagaimana beliau menampilkan ilmu kalam di hadapan kami dalam bentuknya yang segar dan dialogis. Dengan bahasa yang ringan serta khas, ustadz Amal kerap menghadirkan nama-nama besar: Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Iqbal, Sayyid Qutb, Syed Naquib al-Attas, Abdul Majid al-Zindani, hingga Basil al-Taie. Pemikiran para tokoh tersebut dibagi-bagi kepada kami sebagai judul paper untuk dipresentasikan di kelas. Yang menarik lagi, beliau berpesan agar tulisan kami bersifat analitis-kritis, tidak semata deskriptif. Kata beliau, “Idza kana washfiyyan faqoth, minal mustahsan an tanzil ila darajah lisans (Kalau [papermu] hanya bersifat deskriptif, tanpa ada analisis dan uraian kritis, lebih baik [kamu] turun saja ke level sarjana).”
Dari sinilah kami kemudian sadar bahwa ilmu kalam dapat bertransformasi menjadi energi pembaharuan. Dari al-Afghani misalnya, lewat karyanya berjudul al-radd ‘ala al-dahriyyin, beliau menunjukkan bahwa reformasi sosial tidak bermula dari pergerakan. Tapi justru dari akidah, bahwa iman adalah basis atau motor penggeraknya. Kemudian dari Muhammad Iqbal, di mana menurutnya, kemunduran umat ini disebabkan oleh kesalahan dalam memahami makna zuhud. Rupanya, sikap yang pada dasarnya luhur tersebut dipahami sebagai pilihan untuk meninggalkan dunia sama sekali. Dan sikap ini tidak lain adalah pengaruh pemikiran orang-orang agnosis dan spiritualitas Timur yang merasuk ke dalam pemikiran umat. Pemikiran kedua tokoh tersebut, dan juga sejumlah tokoh cendekiawan Muslim kontemporer lain, dirangkai dalam satu benang merah: kalam sebagai basis kedaulatan epistemologi Islam.
Menurut kami, sejauh kami pribadi mengikuti kelas-kelas beliau, pada poin inilah tercermin relevansi ide beliau dengan kajian oksidentalisme. Ustadz Amal tidak melihat Barat semata sebagai entitas geografis, tetapi sebagai worldview yang lahir dari sejarah intelektual tertentu, dan karenanya dapat dikaji, dikritik, dan dipahami secara akademik. Seperti dikatakan oleh Hassan Hanafi, oksidentalisme atau kajian terhadap Barat tidaklah dimaksudkan untuk membalas dendam. Tidak pula bertendensi untuk menguasainya. Melainkan untuk merekonfigurasi relasi Islam dan Barat sehingga terwujud relasi dialogis yang setara. Sikap ini diperkuat dengan support beliau secara moril terhadap aktivitas-aktivitas di PKU UNIDA Gontor dan CIOS (Centre for Islamic and Occidental Studies). Di kedua lembaga internal UNIDA tersebut, beliau bertindak sebagai dewan penasihat.
Akhirul kalam, beliau memang berjasa dalam mewujudkan pengakuan mu’adalah pesantren. Beliau juga berperan besar dalam mentransformasi ISID menjadi UNIDA. Tapi kami melihat, beliau juga tak kalah penting kontribusinya dalam membentuk cara berpikir, sebagaimana beliau tanamkan kepada segenap mahasiswanya, bahwa pemuda Muslim harus punya keberanian untuk berpikir kritis dengan tetap beradab, dan terbuka terhadap Barat tanpa kehilangan identitas. Jadi, cara tepat untuk mengenang ustadz Amal adalah dengan melanjutkan kerja intelektual yang telah beliau awali; menjaga kedaulatan epistemologi Islam dan tidak membiarkan kalam sebagai disiplin ilmu yang ditinggalkan. Jika tidak, mungkin beliau akan berkata seperti dulu di kelas beliau mengingatkan para mahasiswanya yang lalai, “idzan anta fi dhalalin mubin”.[]







