ILMU YANG MENAMBAH IMAN: Refleksi Dalam Nasihat-Nasihat Peradaban Jilid 2

Oleh: Prof. Dr. H. Nur Hadi Ihsan, MIRKH

“Ilmu di dalam kehidupan seharusnya menambah keimanan. Jika tidak, maka ilmunya yang salah.”

— Prof. Dr. K.H. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil.

Banyak orang menganggap ilmu bersifat netral, seolah-olah pengetahuan dapat dipisahkan dari iman. Namun, dalam worldview Islam, ilmu tidak pernah bebas nilai. Setiap ilmu memiliki orientasi: ia dapat membawa manusia semakin mendekat kepada Tuhan, atau justru menjauhkannya.

Ilmu yang tidak menambah iman bukan sekadar tidak bermanfaat—ia cacat sejak dalam cara memandang realitas. Seperti kompas yang jarumnya rusak: ia tetap bergerak, tetapi menunjuk arah yang salah.Di sinilah pentingnya worldview.

Dalam pandangan Islam, alam bukan sekadar benda mati. Ia adalah ayat, tanda, dan pesan. Membaca tanda tanpa memahami pengirimnya hanya membuat manusia sibuk memegang huruf, tapi lupa makna.

Akar Metafisik

Islam memandang wujud sebagai sistem yang teratur, bertingkat, dan bernilai. Alam fisik bukan satu-satunya realitas; ia terhubung dengan alam makna dan kehendak Ilahi.

Karena itu, ilmu yang benar harus menghargai struktur metafisik ini. Ia tidak boleh mereduksi manusia menjadi materi, atau memandang kehidupan sebagai rangkaian kebetulan. Ilmu yang menambah iman adalah ilmu yang sadar bahwa di balik hukum-hukum alam, ada al-Hakīm; di balik keteraturan kosmos, ada al-Mudabbir.

Akal Tanpa Cahaya

Akal itu tajam, tetapi ia butuh cahaya. Wahyu adalah cahaya itu. Tanpanya, akal hanya menebak-nebak. Al-Ghazali pernah berkata, “Cahaya wahyu ibarat matahari, dan akal ibarat mata. Mata tidak berguna tanpa cahaya” Ini bukan merendahkan akal. Justru mengembalikan akal pada kedudukannya yang proporsional: ia mulia, tapi bukan absolut.

Para filosof modern menjadikan akal sebagai titik awal eksistensi. Islam berbeda: eksistensi adalah anugerah, bukan kesimpulan. Akal tidak menciptakan wujud; ia diberi kemampuan untuk memahami wujud. Dari sinilah ilmu yang benar dimulai.

Tazkiyah Sebagai Syarat Pengetahuan

Tasawuf memberi satu pelajaran penting: hati yang kotor membuat akal kabur. Orang yang sombong akan membaca ilmu untuk membenarkan kesombongannya. Orang yang rakus akan mencari teori untuk melindungi kerakusannya. Karena itu, dalam Islam, tazkiyat al-nafs (penyucian jiwa) bukan pelengkap; ia prasyarat pengetahuan.

Ibn ‘Atha’illah mengingatkan, “Ilmu adalah cahaya, dan cahaya tidak masuk ke hati yang gelap” Inilah sebabnya mengapa ulama dulu menggabungkan ilmu dengan riyadlah. Mereka tidak menganggap akal sebagai mesin, tetapi sebagai instrumen ruhani. Tanpa tazkiyah, ilmu berubah jadi alat untuk memperbesar ego.

Ijtihad yang Terkendali

Islam memiliki tradisi intelektual yang kaya. Dari ushul fiqh, kalam , filsafat, hingga tasawuf. Semua ini menunjukkan bahwa Islam bukan agama anti-akal. Tapi kebebasan dalam Islam bukan liberalisme. Ijtihad berjalan dalam metodologi yang jelas: ada nash, ada ijma’, ada qiyas. Ada batas-batas yang tidak boleh dilanggar, bukan karena membatasi akal, tapi karena menjaga kebenaran.

Perbedaan pendapat terjadi di banyak cabang itu sehat. Hal yang tidak pernah diperdebatkan adalah akar-akar (ushul)—keberadaan Tuhan, wahyu, kenabian, dan moralitas dasar. Ilmu yang menambah iman bekerja dalam kerangka seperti ini: bebas bergerak, tapi tidak liar; luas menjelajah, tapi tetap terarah.

Gontor: Ilmu yang Berjalan Bersama Iman

Gontor mengajarkan santri untuk berpikir, membaca, berdialog, bahkan dengan pemikiran Barat. Tapi semua dibingkai dengan tauhid. Di sini pesan Prof. Hamid menemukan konteksnya: ilmu harus menambah iman. Di Gontor, kebebasan intelektual tidak pernah lepas dari adab. Santri boleh kritis, tapi tidak skeptis terhadap wahyu. Mereka boleh membaca filsafat, tapi tidak menggadaikan keyakinan.

Cara kerja ilmu di Gontor seperti pedang: tajam, tetapi selalu berada dalam sarung adab. Tanpa adab, ketajaman itu melukai diri sendiri. Dengan adab, ia menjadi kekuatan untuk membangun peradaban.

Ilmu Modern: Canggih tapi Sepi

Ilmu modern bisa membuat manusia mendarat di bulan, tetapi tidak bisa mengatakan mengapa hidup harus bermakna. Ia bisa menciptakan mesin cerdas, tetapi tidak bisa menjelaskan tujuan kecerdasan.

Ketika ilmu dipisahkan dari iman, ia berubah menjadi teknologi tanpa nilai, sains tanpa jiwa, peradaban tanpa arah. Inilah yang disebut al-Attas sebagai loss of adab: hilangnya kesadaran akan tempat segala sesuatu—termasuk tempat manusia di hadapan Tuhannya. Ilmu yang menambah iman memulihkan adab itu. Ia mengembalikan manusia pada struktur kosmisnya. Ia menghubungkan logika dengan makna, hukum alam dengan tujuan, data dengan hikmah.

Penutup

Ilmu yang sejati bukan hanya membuat manusia tahu, tetapi membuatnya sadar; bukan hanya membuatnya pandai, tetapi membuatnya tunduk. Ketika manusia belajar, ia sebenarnya sedang membaca ayat-ayat Tuhan. Ketika ia memahami hukum-hukum alam, ia sedang menyaksikan kebijaksanaan-Nya.

Ilmu yang menambah iman adalah ilmu yang membantu manusia mengenali dirinya dan Tuhannya. Jika suatu pengetahuan membuat manusia merasa jauh dari Tuhan, maka sebagaimana pesan Prof. Hamid: bukan imannya yang kurang—tetapi ilmunya yang salah. Wallahu a‘lam.

Mantingan, 30 Desember 2025

Prof. Dr. H. Nur Hadi Ihsan, MIRKH

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *