Amir Sahidin, M.Ag
Peneliti CIOS Unida Gontor
Pendahuluan
Ide penyatuan agama dengan sains atau pengembangan sains berbasis agama, nyatanya telah sampai pada terkonstruknya bangunan keilmuan (scientific building) berbentuk paradigma ilmiah (scientific paradigm) seperti paradigma Integrasi Interkoneksi, Reintegrasi Keilmuan, Islamisasi Ilmu, dan paradigma lainnya.[1] Dengan sampainya pada tahap ini, diskusi mengenai apa kelebihan dan kekurangan dari masing-masing paradigma tersebut menjadi tidak menarik,[2] kemudian beralih pada signifikansinya dalam melahirkan sains baru yang menempatkan agama sebagai bagian tak terpisahkan dalam bangunan keilmuannya.[3]
Namun harus diakui, hingga saat ini, nyatanya ada banyak nada pesimistis terhadap kemungkinan lahirnya sains baru berbasis agama.[4] Alasan paling sederhana adalah, sains harus secara ketat memenuhi standar dan etika ilmiah, sedangkan agama merupakan ‘medan’ berbuat baik dan benar.[5] Untuk maksud itu, sains mesti dapat terhindar dari subjektivitas ilmuwan dan lebih-lebih intersubjektivitas tradisi dan budaya tertentu. Jika kemudian pengembangan sains harus berbasiskan agama, sudah tentu persoalannya akan jauh lebih rumit, yang paling awal adalah semakin besarnya peluang akan lahirnya “pseudosains” atau “sains semu” yang tentu saja tidak saintifik, lebih dari itu, seseorang akan dapat terjebak pada “agamaisasi” sains atau malah “sainisasi” agama yang mengaggap agama dan sains dapat saling mengisi, melengkapi, mengoreksi, dan saling membenarkan sebab berada pada posisi setara.[6]
Seiring dengan perkembangan tersebut, dalam konteks Islam, Al-Qur’an sebagai sumber pokok agama lantas mendapat perhatian secara khusus dalam pola pengembangan sains baru itu. Sebagaimana pandangan yang sudah sedemikian mengakar pada masyarakat Muslim bahwa Al-Qur’an adalah sumber pengetahuan, ditambah dengan adanya mukjizat keilmuan atau al-I’jaz al-‘Ilmi, sehingga seakan-akan seluruh teori sains dan pengembangannya telah ada dalam Al-Qur’an. Maka pertanyaan-nya, benarkah makna al-I’jaz al-‘Ilmi adalah adanya seluruh teori sains? Apa kaitan al-I’jaz al-‘Ilmi dengan pengembangan sains? Bagaimana pengembangan sains berbasis Al-Qur’an? Makalah ini akan memberi jawaban atas beberapa persoalan tersebut.
Makna Al-I’jaz Al-‘Ilmi
Al-Qur’an merupakan kalamullah yang berisikan ayat-ayat tanziliyah, mempunyai fungsi utama sebagai petunjuk bagi umat manusia, baik hubungannya dengan Tuhan, manusia, maupun alam raya.[7] Dengan begitu, Al-Qur’an tidak hanya memaparkan masalah-masalah kepercayaan (akidah), hukum (syariah), ataupun pesan-pesan moral (akhlak), tetapi juga di dalamnya terdapat petunjuk memahami rahasia-rahasia alam raya.[8] Selain itu, ia juga berfungsi untuk menunjukkan ketidakmampuan para penentangnya dan secara otomatis membuktikan kebenaran pembawanya atau nabi Muhammad Saw.[9] Oleh karena itu, dalam beberapa kesempatan Al-Qur’an menantang siapa yang meragukannya untuk mendatangkan semisal dengan Al-Qur’an,[10] atau sepuluh surat saja semisalnya,[11] dan bahkan satu surat terpendek darinya.[12] Sehingga didapati usaha-usaha untuk menjawab tantangan tersebut seperti Musailamah al-Kadzab dengan surat-surat buatannya, namun tidak satupun dari surat buatannya berhasil menyamai bahasa, kanduangan dan keindahan Al-Qur’an.[13] Sehingga kebenaran bahwa ia bukan perkataan manusia menjadi tak terbantahkan, dan inilah yang disebut dengan i‘jaz Al-Qur’an.
Kata i’jaz sendiri dalam bahasa Arab, merupakan derivasi dari kata ‘ajaza yang berarti lemah atau tidak mampu.[14] Dari akar kata yang sama lahir kata mu’jizah (mukjizat) yang diartikan oleh banyak pakar sebagai sesuatu di luar kebiasaan yang dimiliki para nabi untuk menantang siapa yang tidak mempercayai risalahnya, dan tantangan tersebut tidak dapat dihadapi oleh orang yang ditantang.[15] Dari sini terlihat bahwa Al-Qur’an adalah mukjizat teragung sejak dulu, sekarang, akan datang, hingga hari kiamat karena tetapnya tantangan tersebut hingga hari akhir kelak.[16] Termasuk dari cakupan luar biasa i’jaz Al-Qur’an tersebut adalah al-i’jaz al-‘ilmi atau kemukjizatan ilmiah.[17]
Menurut Mana’ al-Qattan, al-i’jaz al-‘ilmi bukan terletak pada pencangkupannya akan teori-teori ilmiah yang selalu baru dan berubah serta merupakan hasil usaha manusia dalam penelitian dan pengamatan. Tetapi ia terletak pada dorongannya untuk berfikir dan menggunakan akal. Al-Qur’an mendorong manusia agar memperhatikan dan memikirkan alam. Ia tidak mengebiri aktivitas dan kreatifitas akal dalam memikirkan alam semesta, atau menghalanginya dari penambahan ilmu pengetahuan yang dapat dicapainya.[18] Meskipun demikian, dapat dikatakan bahwa, semua persoalan atau kaidah ilmu pengetahuan yang telah mapan dan meyakinkan, merupakan manifestasi dari pemikiran valid yang dianjurkan Al-Qur’an, tidak ada pertentangan sedikit pun dengannya. Ilmu pengetahuan telah maju dan telah banyak pula masalah-masalahnya, namun apa yang tetap dan mapan darinya tidak mungkin bertentangan sedikit pun dengan salah satu ayat Al-Qur’an. Maka, ini saja menurut Mana’ al-Qattan sudah merupakan sebuah kemukjizatan (i’jaz).[19]
Oleh karena itu, Al-Qur’an selalu mendorong untuk untuk berfikir dan meneliti segala apa yang ada di alam semesta sebagai sarana untuk beriman kepada Allah.[20] Membangkitkan kesadaran ilmiah untuk memikirkan, memahami dan menggunakan akal.[21] Mengangkat kedudukan seorang Muslim karena ilmu.[22] Tidak menyamakan antara orang berilmu dengan orang yang tak berilmu (jahil).[23] Memerintahkan umat Islam agar meminta nikmat ilmu pengetahuan kepada Tuhannya (Allah).[24] Selain itu, Allah juga mengumpulkan ilmu falak, botani, geologi, dan zoologi, serta menjadikan semuanya sebagai pendorong rasa takut pada-Nya.[25]
Bersambung pada part 2…
[1] Disarikan dari, Amir Sahidin dan Mohammad Muslih, “Al-I’jaz Al-‘Ilmi Al-Qur’an Dan Pengembangan Sains” Prosiding Konferensi Integrasi Interkoneksi Islam dan Sains (KIIIS), vol. 4, no. 1, (2022), https://ejournal.uin-suka.ac.id/saintek/kiiis/article/view/3174
[2] Mohammad Muslih, “Al-Qur’an dan Lahirnya Sains Teistik”, Tsaqafah: Jurnal Peradaban Islam, vol. 12, no. 2, November (2016), hlm. 258, https://doi.org/10.21111/tsaqafah.v12i2.756
[3] Mohammad Muslih, Falsafah sains: Dari Isu Intergrasi Keilmuan Menuju Lehirnya Sains Teistik (Yogyakarta, Lembaga Studi Islam [LESFI], 2017), hlm. 161
[4] Mohammad Muslih, “Rekonstruksi Nalar Keagamaan; Ikhtiar Menemukan Konteks Agama bagi Pengembangan Sains”, Afkaruna, vol. 14, no. 2, Desember (2018), hlm. 191, https://doi.org/10.18196/AIIJIS.2018.0087.190-218
[5] Mohammad Muslih, “Al-Qur’an dan Lahirnya Sains Teistik”, hlm. 259
[6] Mohammad Muslih, “Rekonstruksi Nalar Keagamaan; Ikhtiar Menemukan Konteks Agama bagi Pengembangan Sains”, hlm. 195
[7] Lihat QS. Al-Baqarah: 185
[8] Muchlis M. Hanafi dalam pengantarnya terhadap buku, “Tafsir ‘Ilmi”. Lihat, Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, dkk, Tafsir Ilmi (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2013), hlm. xix
[9] Mana’ al-Qattan, Mabahits fi ‘Ulum Al-Qur’an, (Surabaya, al-Hidayah, 1973), hlm. 258
[10] Lihat, QS. Al-Thur: 38
[11] Lihat, QS. Yunus: 38
[12] Lihat, Qs. Al-Baqarah: 23
[13] Husain bin Muhammad Bakri, Tarikh al-Khamis fi Ahwal Anfus al-Nafis (Beirut: Dar Shadir, tt), vol. 2, hlm. 158
[14] Ahmad Ibnu al-Faris, Maqayis al-Lughah, (Beirut: Dar al-Fikr, 1979) vol. 4, hlm. 232
[15] Shalih Abd al-Fattah, I’jaz al-Qur’an al-Bayani wa dalail Mashdaruhu al-Rabbaniy, (Amman: Dar Ammar, 2000), hlm. 18.
[16] Abdul Karim Zaidan, Ushul ad-Dakwah (Beirut: Muassasah al-Risalah, 2002), hlm. 31-32
[17] Mana’ al-Qattan, Mabahits fi ‘Ulum Al-Qur’an.., hlm. 264. Muhammad bin Abdul Aziz al-‘Awaji, I’jaz al-Qur’an ‘inda Syaikh al-Islam Ibn Taymiyah, (Riyadh: Dar al-Manhaj, 1427 H), hlm. 153-194. Hasan Awad Bilal al-‘Awfi, I’jaz al-Qur’an al-Karim ‘inda Ibn al-Qoyim, (Riyadh: Universitas King Saud, 1436 H), hlm. 107-448.
[18] Mana’ al-Qattan, Mabahits fi ‘Ulum Al-Qur’an.., hlm. 270
[19] Ibid, hlm. 271
[20] Lihat, QS. Ali Imran: 190-191, Al-Rum: 8, Al-Zariyat: 20-21, dan Al-Ghasyiyah: 17-20
[21] Lihat, QS. Al Baqarah: 219, Al-Hasyr: 21, Yunus: 24, Al-Ra’d: 3, Al-A’raf: 32, dan Al-An’am: 97, 65, serta 98.
[22] Lihat, QS. Al Mujadalah: 11
[23] Lihat, QS. Al-Zumar: 9
[24] Lihat, QS, Taha: 114
[25] Lihat, QS. Fathir: 27-28







