Konsep Epistemologi Perspektif Al-Kindi: Islamisasi Epistemologi Yunani

Amir Sahidin, M.Ag (Peneliti CIOS)

Pendahuluan

Corak pemikiran seseorang sangat dipengaruhi oleh konsepsi epistemologinya.[1] Konsepsi epistemologi tersebut meliputi berbagai hal, di antaranya hakikat atau dasar suatu ilmu dan sumber pengetahuan yang digunakan.[2] Kedua hal ini sangat mempengaruhi pemikiran sesorang terhadap ilmu pengetahuan yang diperoleh. Empirisisme dan rasionalisme yang dibawa oleh para filsuf Barat misalnya,[3] pada akhirnya membawa dampak terhadap pengetahuan modern yang menegasikan peran wahyu dalam konsepsi epistemologinya.[4] Terkait empirisisme ini, Francois Bacan menegaskan bahwa pengetahuan bukan suatu pendapat melainkan suatu pekerjaan untuk dilakukan,[5] sehingga Bacan menolak logika untuk melahirkan pengetahuan.[6] Sedangkan terkait rasionalisme, Rene Descartes menerangkan bahwa persoalan dasar filsafat pengetahuan tidaklah bagaimana seorang dapat megetahui, tetapi mengapa seorang dapat membuat kekeliruan.[7] Oleh karena itu, bagi Descartes untuk mencapai suatu kepastian, harus menempuh metode keraguan yang universal.[8] Kedua pemikiran ini, selain saling menegasikan satu sama lainnya, keduanya sepakat tidak adanya peran wahyu dalam ilmu pengetahuan.

Berbeda dengan para filsuf Barat yang terpengaruh oleh epistemologi Yunani, bagi filsuf Muslim seperti al-Kindi, ia tidak serta merta menerima apa saja yang datang dari filsuf Yunani. [9] Ketidaktaklidan al-Kindi ini dilandasi oleh cara pandang Islam (islamic wordview) yang mengakui wahyu sebagai sumber terpenting sebuah ilmu pengetahuan.[10] Untuk itu, meskipun al-Kindi merupakan filsuf Muslim paripatetik pertama yang mengenalkan filsafat Yunani, namun pemikiran Yunani tidak serta merta al-Kindi amini.[11] Al-Kindi melakukan Islamisasi terhadap ilmu-ilmu tersebut, termasuk epistemologi Yunani dengan berlandaskan cara pandang Islam, sehingga lahirlah epistemologi Islam. Untuk itu, artikel ini akan menjabarkan secara mendalam terkait epistemologi Islam perspektif al-Kindi, khususnya pada hakikat atau dasar suatu ilmu dan sumber pengetahuannya.

Sejauh penelusuran terdahulu (al-buhūts al-sābiqah) terkait pemikiran al-Kindi, ditemukan banyak sekali peneliti yang telah membahas pemikirannya, baik terkait agama,[12] ketuhanan,[13] alam,[14] akal,[15] kebahagiaan,[16] dan lain-lainnya.[17] Akan tetapi terkait pemikiran epistemologinya, hanya ditemukan satu kajian jurnal relevan. Kajian tersebut berjudul, “al-Ma’rifah ‘Inda Al-Kindī fī al-Qirāāt al-Falsafiyah al-Arabiyah al-Muāṣirah”, karya Arif Abd Fahd dan Asra’ Ali ‘Udah, yang diterbitkan oleh Majallah al-Falsafah Universitas Muntansiriyah, Irak.[18] Kendati artikel ini juga menjelaskan epistemologi al-Kindi, namun artikel ini tidak sampai pada kesimpulan bahwa epistemologi al-Kindi merupakan epistemologi islami yang lahir dari cara padang Islam. Untuk itu, kajian ini hadir sebagai tindak lanjut dan sekaligus penegas bahwa epistemologi yang dibangun oleh al-Kindi merupakan epistemologi Islam, yang tentu memiliki perbedaan dengan epistemologi Yunani. Selain itu, artikel ini akan mengungkapkan fakta bahwa meskipun al-Kindi merupakan filsuf Muslim pertama (parepatetik) yang menjadi jembatan tersebarnya ilmu-ilmu filsafat Yunani, namun worldview Islamnya menjadikan dirinya tetap teguh dalam nilai-nilai Islam tanpa keraguan di dalamnya.

Corak Pemikiran Filsuf Yunani dan Al-Kindi

Al-Kindi sangat menghormat Aristoteles dan banyak meringkas pendapat-pendapatnya, sehingga ia dikenal sebagai tokoh objektivis-me Arab pertama. Meskipun demikian, pada banyak masalah filsafat dirinya sering berbeda pendapat dengan Aristoteles, sebaliknya ia lebih cenderang pada ide Plato dan Plotinus.[19] Namun demikian, walaupun al-Kindi dipengaruhi oleh filsafat Yunani dan Platonisme Modern, tetapi ia tetap percaya prinsip-prinsip Islam.[20] Misalnya, pendapat al-Kindi, “Sesunggunya kebenaran wahyu melampaui tingkat hikmah kemanusiaan, sebagaimana pada nabi yang berbicara atas nama Allah dan orang-orang yang membawa panji ilahi melampaui semua manusia”.[21] Dari ungkapan ini, al-Kindi mengakui dan menyakini akan sumber utama ilmu pengetahuan dalam Islam, berupa wahyu, baik al-Qur’an maupun sunnah, sebagai sesuatu yang sakral melampaui hikmah seluruh manusia.

Oleh karena itu, dalam kajian epistemologi, al-Kindi berusaha melakukan Islamisasi atas konsepsi epistemologi Yunani. Terkait dengan dasar ilmu misalnya, al-Kindi memulai teori epistemologinya dengan kajian ‘illah yang memiliki kesamaan dengan konsep couse atau sebab Aristoteles. Dalam hal ini al-Kindi membagi ‘illah menjadi empat sebagaimana Aristoteles, yaitu sebab material, formal, efisien, dan final, meskipun dengan istilah yang berbeda.[22] Namun demikian, al-Kindi menyakini bahwa sumber semua ilmu tersebut bermula dan berakhir pada ‘illah al-haq, yaitu Tuhan.[23] Selain itu, ketika menjelaskan sumber pengetahuan, al-Kindi tidak mencukupkan diri dengan pengetahuan indrawi dan rasional yang sering dibicarakan filsuf Yunani, melainkan menambahnya dengan pengetahuan tertinggi, yaitu pengetahuan ilahi.[24]

Konsep Epistemologi Al-Kindi

Epistemologi merupakan salah satu bagian terpenting dari ilmu filsafat al-Kindi. Husain bin Marwah menegaskan bahwa al-Kindi merupakan pemikir Arab pertama yang meletakkan persoalan epistemologi dalam suatu kerangka yang sangat teologis.[25] Demikian itu karena bagi al-Kindi, filsafat yang paling mulia adalah “Filsafat Pertama” (al-falsafah al-ūlā), yaitu ilmu tentang kebenaran pertama, yang merupakan penyebab (‘illah haq) segala kebenaran.[26] Untuk itu, al-Kindi memiliki kelebihan terkait konsep pengetahuannya. Al-Alusi menerangkan bahwa kelebihan tersebut karena bagi al-Kindi, pengetahuan terhadap sesuatu adalah ‘illah atau sebab untuk sesuatu lain dari pengetahuan yang diketahui ‘illah-nya.[27] Demikian itu, sehingga al-Kindi mengatakan:

أننا إنما نعلم كل واحد من المعلومات علما تاما، إذا نحن احطنا بعلم علته.[28]            

Ungkapan tersebut menunjukkan, bagi al-Kindi pengetahuan sempurna terhadap sesuatu dapat tercapai dengan pengetahuan menyeluruh terhadap ‘illah sesuatu tersebut. Hal ini juga dikuatkan oleh penjelasan al-Alusi, bahwa al-Kindi melihat seorang tidak mungkin sampai kepada hakikat suatu ilmu tanpa pengetahuan terhadap‘illah-nya.[29]Illah ini terbagi menjadi empat yang bagi al-Kindi sangat penting untuk dipelajari guna mengetahui peran akumulasi pengetahuan sejak manusia mendapatkan suatu ilmu.[30] Keempat ‘illah tersebut sebagaimana disebutkan dalam kamus filsafat adalah:[31] Pertama, ‘illah material adalah substansi yang darinya sesuatu hal menjadi ada dan terus ada. Kedua, ‘illah formal yaitu bentuk (pola, konfigurasi) yang ke dalamnya suatu berubah. Ketiga, ‘íllah efisen ialah sesuatu yang olehnya suatu perubahan terjadi. Keempat, ‘illah final yakni sesuatu yang demi kepentingannya sesuatu kegiatan terjadi. Keempat ‘illah atau sebab ini merupakan jawaban dari pertanyaan mengapa dan bagaimana suatu hal (benda) menjadi apa adanya dan bukan menjadi sesuatu yang lain.[32]

Selain itu, keempat sebab tersebut dinamakan Aristoteles sebagai penyebab teleologis (teleological causation). Demikian itu karena bagi Aristoteles seseorang akan dapat memahami sesuatu jika ia memahami empat hal tentangnya yaitu:dari apa sesuatu itu dibuat (material cause);bentuknya (formal cause, yang mengambil bentuk atau yang diekspresikan); apa (atau siapa) menghasilkan benda itu (efficient cause); dan keadaan final (final cause, yaitu: tujuan, maksud, keadaan pemenuhan) benda itu yang kepadanya suatu kegiatan dikembangkan dan yang untuknya suatu perubahan diperjuangkan.[33] Dari sinilah hakikat suatu ilmu akan diperoleh secara sempurna dengan keempat ‘illah dimaksud, dan hakikat semua ilmu tersebut bermula dan berakhir pada‘illah al-haq, yaitu Tuhan.[34]

Dari penjelasasn di atas dapat dikatakan bahwa al-Kindi sependapat dengan Aristoteles terkait dengan empat ‘illah atau sebab pengetahuan. Selain itu, al-Kindi juga sependapat dengan Aristoteles terkait dengan adanya pertanyaan tentang ilmu. Pertanyaan tersebut menurut al-Kindi ada empat, yaitu apakah (هل), apa (ما) siapa/yang mana (أي), kenapa (لِمَ). Kata hal (هل) membahas tentang al-iniyah (penetapan wujud, kelanjutan dan perbedaan). Setiap al-iniyah tersebut pasti memiliki jins (jenis), sehingga kata mā (ما) membahas tentang jenisnya, sedangkan ay (أي) membahas tentang fasl (pembedanya), keduanya (ما، أي) juga membahas tentang nau’ (macamnya). Adapun lima (لم) membahas tentang al-‘illah al-mulaqah (sebab mutlaknya).[35] Dari keempat pertanyaan tersebut, al-Kindi lantas menjelaskan:

أنا متى أحطنا بعلم عنصرها فقد أحطنا بعلم جنسها؛ ومتى أحطنا بعلم صورتها فقد أحطنا بعلم نوعها، وفي علم النوع علم الفصل، فإذا أحطنا بعلم عنصرها وصورتها وعلتها التمامية فقد أحطنا بعلم حدها، وكل محدود فحقيقته في حده.[36]

Dari ungkapan tersebut dapat dikatakan bahwa sesiapa yang mengetahui secara mendetail materialnya, maka ia mengetahui secara mendetail jenisnya; jika mengetahui secara mendetail formalnya, maka mengetahui secara mendetail macamnya; dari pengetahuan suatu macam terdapat pengetahuan terhadap pembedanya; maka apabila seorang mengetahui secara mendetail terkait material, formal dan ‘illah­ al-tamāmiyah atau sebab finalnya, ia telah mengetahui batasannya, karena setiap yang dibatasi hakikatnya ada pada pembatasnya.[37] Ini semua menunjukkan bahwa al-Kindi sangat perhatian terhadap ‘illah pengetahuan guna sampai kepada hakikat suatu ilmu.

Sumber Pengetahuan

Al-Alusi dan Husain Marwah menjelaskan bahwa sumber pengetahuan al-Kindi terbagi menjadi tiga, yaitu pengetahuan indrawi (al-his), rasional (al-‘aql) dan pengetahuan yang bersumber dari wahyu (al-ilāhī).[38] Kedua penyebutan pertama merupakan sumber pengetahuan yang bersifat manusiawi dan tabii, sedangkan sumber ketiga adalah sumber pengetahuan yang tingkatannya di atas tabiat manusia, yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui jalan para nabi dan rasul.[39] Adapun penjelasan lebih detail terkait sumber pengetahuan tersebut adalah sebagai berikut ini:

Pertama: Pengetahuan yang bersifat indrawi

Para pengkaji pemikiran al-Kindi seperti Ahmad Fuad al-Ahwani, Hisam Hayyudin al-Alusi, Muhammad Abdurrahman Marhaban, dan Kamil Muhammad Uwaidhah menyebutkan bahwa pengetahuan indrawi merupakan salah satu dari sumber pengetahuan al-Kindi.[40] Demikian itu, karena al-Kindi melihat bahwa wujud indrawi lebih dekat dengan manusia, tersebab wujud indrawi terkait dengan panca indra, sedangkan panca indra ada dalam diri manusia sejak perkembangannya.[41] Untuk itu, pengetahuan dimulai dari persepsi indrawi terhadap suatu objek meskipun terdapat perubahan serta pergerakan pada objek itu, kemudian secara langsung indra tersebut menangkap gambaran dan permisalannya untuk diteruskan ke tempat penampungan di imajinasi.[42]

Kedekatan indra dengan apa yang ada dalam diri manusia di atas, sebagaimana ungkapan al-Kindi: “أحدهما أقرب منا وأبعد عند الطبيعة، وهو وجود الحواس التي هي لنا، منذ بدء نشونا”.[43] Ungkapan ini menunjukan kedekatan panca indra dengan manusia, namun demikian dalam ungkapan ini pula al-Kindi mengatakan bahwa ia jauh secara tabiat. Hal ini karena perkara yang terindra bersifat tidak tetap, terkadang hilang, berubah dan berganti, sehingga dengan ketidaktetapannya menjadikan ia jauh dari tabiat (sebenarnya).[44]

Namun demikian, pengetahuan indrawi al-Kindi yang terjadi secara langsung tanpa adanya perantara tersebut merupakan dalil akan adanya wujud eksternal. Hal ini sebagaimana ungkapan al-Kindi berbicara tentang wujud yang dapat diindra, “فهو قريب من الحاس جدا، لوجدانه بالحس مع مباشرة الحس إياه”,[45] yang berarti dia (objek/wujud yang diindra) sangat dekat dengan indra karena diketahui secara langsung dari indra tersebut. Untuk itulah pengetahuan indrawi ini merupakan langkah awal dalam mekanisme kerja pengetahuan perspektif al-Kindi.[46]

Kedua: Pengetahuan yang bersifat rasional

Sumber pengetahuan kedua bagi al-Kindi adalah rasional atau akal (al-‘aql).[47] Al-Kindi mengartikan akal sebagai, “جوهر بسيط، مدرك لأشياء بحقائقها”,[48] yang berarti, esensi sederhana yang mengetahui sesuatu dengan hakikat-hakikatnya. Selanjutnya al-Kindi melihat bahwa pengetahuan rasional akan sempurna dengan dua cara yaitu, pertama, prinsip-prinsip bawaan yang ada dalam pikiran, bahwa jiwa rasional berasal dari tabiat akal itu sendiri bukan dari luar, seperti aksioma, postulat dan setiap proposisi yang tidak memerlukan pembuktian, dalil atau kias. Kedua, pemahaman universal yang datang dengan metode perolehan, pendidikan dan pertimbangan, ia berasal dari luar dan apa yang diperoleh dari luar adalah macam-macam dan jenis-jenisnya, berupa konsep universal.[49] Gambaran-gambaran rasional tersebut dapat ditemukan dalam hal-hal tabii, karenanya keberadaan rasional lebih dekat dengan tabiat. Untuk itu pengetahuan rasional diperoleh dengan dua hal, yaitu: dengan prinsip-prinsip bawaan dalam pikiran dan kecerdasan total dari luar.[50]

Berikutnya, menurut para peneliti pemikiran al-Kindi, seperti Ja’far Ali Yasin, Kamil Muhammad Uwaidhah, Muhammad Jabr, Husain Marwah dan Majdi Kamil, menyebutkan al-Kindi membagi akal menjadi empat macam, yaitu: pertama, akal yang selamanya dalam aktualitas (العقل الذي هو بالفعل دائم). Akal pertama ini berada di luar jiwa seseorang yang bersifat ilahi dan selalu dalam aktualitas. Karena sifatnya yang selalu berada dalam aktualitas, maka bagi al-Kindi, akal pertama inilah yang menjadikan akal potensial (akal kedua) pada jiwa seseorang menjadi aktual. Kedua, akal yang bersifat potensial (العقل بالقوة), yaitu akal murni dalam diri seseorang yang masih berupa potensi dan belum menerima bentuk-bentuk baik indrawi maupun akali.[51]

Ketiga, akal yang bersifat perolehan (العقل المستفاد), akal ini merupakan akal yang telah keluar dari potensialitas dan mulai memperlihatkan pemikiran abstraknya. Selain itu, akal perolehan ini disebut sebagai akal aktual tingkat pertama. Akal ketiga ini dapat dicontohkan dengan kemampuan positif seseorang yang diperoleh dengan belajar, misalnya tentang bagaimana cara menulis. Keempat, akal yang berada dalam keadaan nyata (العقل الظاهر), ketika ia aktual maka ia dapat disebut sebagai akal aktual tingkat kedua. Akal keempat ini merupakan akal nyata dari jiwa yang menjadi ada untuk selainnya, ibarat proses penulisan jika seseorang benar-benar melakukan penulisan.[52]

Jika diteliti, pandangan al-Kindi mengenai akal tersebut nyaris mengambil secara penuh pendapat para filsuf Yunani terdahulu. Menurut Uwaidhah, al-Kindi mengambil teori akal dari pemikiran para filsuf Yunani seperti Aristoteles dan Alexander Aphrodisias. Untuk itu, al-Kindi mengambil al-‘aql bi al-quwwah dan al-‘aql al-mustafād dari Aristoteles, dan mengambil al-‘aql bi fi’li al-d’im dari Alexander. Kemudian al-Kindi menambah akal keempat, disebut sebagai al-aql al-ẓāhir, karena jiwa menjelaskan tentang apa yang ada di dalamnya kepada akal lainnya.[53] Berdasarkan penyataan ini, dapat dikatakan al-Kindi melakukan Islamisasi terhadap konsep akal para filsuf Yunani terdahulu, yaitu dengan adanya tambahan tersebut yang menunjukkan adanya perbedaan antara keduanya. Selain itu, perbedaan sumber pengetahuan al-Kindi dengan pengetahuan para filsuf Yunani akan semakin terlihat dari kajian sumber pengetahuan ketiga al-Kindi.

Ketiga: Pengetahuan yang bersifat ilahi

Bagi al-Kindi pengetahuan ilahi merupakan ilmu yang diperoleh dengan jalan ilham dan pengkabaran, adapun pengetahuan insani hanya dapat diperoleh dengan jalan indra dan akal.[54] Pengetahuan ilahi ini merupakan pengetahuan yang dimutlakkan dengan beberapa nama, seperti: al-syar‘iyah, fauq al-basyariyah, al-arīqah al-ilahī dan al-ma’rifah al-isyrāqiyah, ia merupakan pengetahuan yang dikhususkan kepada para nabi dan rasul yang datang dengan cara ilham, intuisi dan basirah.[55]

Melengkapi keterangan tersebut, Marhaban menjelaskan lebih jauh terkait pandangan al-Kindi tentang hal itu. Pengetahuan intuisi adalah pengetahuan yang tidak dilapangkan untuk setiap orang, melainkan hanya dikhususkan Allah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, al-Kindi menyebut mereka dengan orang-orang yang beragama dan cerdas (ذوي الدين والألباب). Untuk itu, pada sumber pertama (panca indra) dan kedua (rasional) al-Kindi banyak mengadopsi pandangan para filsuf Yunani terdahulu, sedangkan sumber yang ketiga ini al-Kindi hanya mengadopsi pandangan Islam. Demikian itu karena al-Kindi merupakan filsuf Muslim yang tidak keluar dari nilai-nilai Islam dan melihat filsafat sebagai pelayan tujuan-tujuan syariat.[56] Adapun jalan pengetahuan ini merupakan jalan wahyu dan ilham yang dikhususkan Allah kepada para nabi-Nya, al-Kindi menyebutnya dengan pengetahuan ilahiyah atau ilmu ilahi. Untuk itu, al-Kindi meyakini bahwa ada prinsip-prinsip yang tidak dapat diketahui dengan rasionalitas dan indra manusia, melainkan hanya dapat diketahui melalui jalan ilmu ilahi.[57]

Oleh karena itu, al-Kindi berpendapat bahwa pengetahuan para nabi dan rasul datang tanpa adanya pencarian, pembebanan dan penelitian. Hal ini sebagaimana ungkapannya:

فإن علم الرسل صلوات الله عليهم الذي خصها الله وتعالى، علوا كبيرا، أنه بلا طلب ولا تكلف ولا بحث ولا لحيلة بالرياضات والمنطق ولا بزمان، بل مع إرادته جل وتعالى، بتطهير أنفسهم وإنارتها للحق بتأييده وتسديده وإلهامه ورسالاته؛ فإن هذا العلم خاصة للرسل صلوات الله عليهم، دون البشر.[58]

Dari ungkapan tersebut diketahui bahwa dalam pandangan al-Kindi kenabian dan wahyu bukan perkara yang diusahakan dengan melatih jiwa maupun argumen mantiqiyyah. Ia juga bukan hasil kuatnya akal dari metode mencapai pengetahuan pada umumnya manusia, melainkan ia merupakan pemberian dan karunia yang Allah berikan kepada para hamba-Nya yang dikehendaki. Untuk itu, menurut Haidar Abd al-Hasan, al-Kindi membedakan antara ilmu para nabi dan rasul dengan ilmu filsafat (filsuf) dan ilmu para wali. Hal ini sebagaimana pendapatnya bahwa ilmu kenabian dan kerasulan tidak akan dapat dicapai oleh manusia biasa bagaimanapun caranya.[59]

Selaras dengan pandangan tersebut, Marhaban dan Uwaidhah menyebutkan perbedaan antara ilmu filsafat dan ilmu para nabi menurut al-Kindi. Ilmu filsafat merupakan buah dari pembebanan terhadap penelitian, daya upaya, dan tujuan untuk mengetahui kebenaran yang tidak bisa diperoleh kecuali dengan kesungguhan pikiran dan pengambilan kesimpulan. Sedangkan ilmu para nabi didapatkan dari perbuatan ilahi dalam hati para nabi secara memancar kemudian datang secara jelas dan murni, ini semua adalah tindakan ilahi yang mengungkapkan jiwa mereka dan mempersiapkan mereka untuk menerima ilmu-ilmu tersebut.[60] Terkait dengan ilmu yang dibawa oleh para nabi dan rasul tersebut, al-Kindi berkata:

لأن في علم الأشياء بحقائقها علم الربوبية، وعلم الوحدانية، وعلم الوفضيلة، وجملة علم كل نافع والسبيل إليه، والبعد عن كل ضار والاحتراس منه، وافتناء هذه جميعا هو الذي أتت به الرسل الصادقة عن الله جل ثناؤه. فإن الرسل الصادقة صلوات الله عليها إنما أتت بالإقرار بربوبية الله وحدة، ويلزم الفضائل المرتضاة عنده، وترك الرذائل المضادة للفضائل في ذواتها، وإيثارها.[61]

Dari ungkapan tersebut, al-Kindi menerangkan kandungan ilmu yang dibawa para nabi dan rasul, yaitu berupa ilmu rububiyah, wahdāniyah (ketuhanan), keutamaan dan berbagai ilmu yang bermanfaat. Sehingga para nabi dan rasul datang dengan membawa pengakuan akan keesaan Tuhan, ajaran melazimi berbagai bentuk kebaikan yang diridhai-Nya dan meninggalkan segala keburukan yang bertentangan dengan kebaikan itu sendiri, serta dari diri mereka sendiri. Karena alasan ini, menurut Imad al-Rifa’i, sumber terpenting untuk mencapai suatu pengetahuan dalam pandangan al-Kindi adalah, apa-apa yang datang bersama para rasul dari sisi Allah Ta‘āla yaitu berupa kitab-kitab samawi dan apa-apa yang dibawa oleh para nabi-Nya.[62] Keduanya dapat dipahami dengan pertimbangan akal, namun disyaratkan mampu memahami makna al-Qur’an; merupakan orang yang beragama dan cerdas (ذوي الدين والألباب); mampu memahami maqāṣid dari wahyu; mengetahui khaṣāi ta‘bīr lughawī dan berbagai dalālah lain dalam bahasa Arab.[63]

Simpulan

Berdasarkan berbagai pemaparan di atas, dapat disimpulkan, al-Kindi sangat perhatian terhadap epistemologi. Meskipun al-Kindi banyak mengadopsi teori epistemologi para filsuf Yunani terdahulu, namun epistemologi al-Kindi memiliki perbedaan mendasar dan nilai lebih tinggi. Hal itu karena al-Kindi menempatkan ilmu ilahi sebagai ilmu tertinggi yang dikhususkan oleh Tuhan kepada para nabi dan rasul, tidak setiap orang. Al-Kindi juga meyakini bahwa apa yang datang dari para nabi dan rasul, berupa wahyu baik al-Qur’an ataupun sunnah merupakan sumber utama suatu ilmu pengetahuan. Untuk itu, konsep epistemologi al-Kindi memiliki perbedaan dengan epistemologi para filsuf Yunani terdahulu yang tidak membicarakan hal itu. Adapun rincian dari konsep epistemologi al-Kindi, yaitu: pertama, al-Kindi sangat perhatian terhadap ‘illah atau sebab serta hakikat suatu ilmu, yang mencakup sebab material, formal, pelaku yang darinya muncul permulaan gerak, dan sebab penyempurna yang karenanya sesuatu itu diadakan. Kedua, sumber pengetahuan al-Kindi ada tiga macam, yaitu panca indra, rasional dan sumber ilahi. Dari sini dapat dikatakan, epistemologi yang dibangun al-Kindi adalah epistemologi Islam.


[1] Artikel ini disarikan dari, Amir Sahidin dan Abdurahim, “Konsep Epistemologi Perspektif Al-Kindi: Modifikasi Epistemologi Yunani” Jaqfi: Jurnal Aqidah dan filsafat Islam, vol. 8, no. 1, (2023), https://doi.org/10.15575/jaqfi.v8i1.22257

[2] Abdurrahman bin Zaid Al-Zunaidī, Maādir Al-Ma’rifah Fī al-Fikr al-Dīnī Wa al-Falafī (Riyad: Maktabah al-Muayyad, 1996), 50.

[3] Heraclitus (535-475 SM) menekankan penggunaan indera, sementara Parmanides (540-475 SM) menekankan penggunaan akal. Lihat, Paul (Ed Edward ), The Encyclopedia of Philoshopy (New York: Mac Millan Publishing, 1972), 6–7.

[4] Lihat, Nunu Burhanuddin, ‘Pemikiran Epistemologi Barat: Dari Plato Sampai Gonseth’, Intizar 21, no. 1 (2015): 137.

[5] Lihat, K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX: Prancis (Jakarta: Gramedia, 1996), 320.

[6] Lihat, Burhanuddin, ‘Pemikiran Epistemologi Barat: Dari Plato Sampai Gonseth’, 137.

[7] Lihat, Ahmad Tafsir, Filsafat Umum Akal Dan Hati Sejak Thales Sampai James (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1991), 27–28.

[8] Lihat, Burhanuddin, ‘Pemikiran Epistemologi Barat: Dari Plato Sampai Gonseth’, 137.

[9] Lihat, Muhammad Utsman Najati, Jiwa Dalam Pandangan Filosuf Muslim, Trans: Gazi Saloom (Bandung: Pustaka Hidayah, 2002), 22.

[10] Ya’qub bin Ishak Al-Kindī, Rasāil Al-Kindī al-Falsafiyah, Muhaqqiq: Muhammad Abd al-Hadi Abū Rīdah (Almenia: Mathba’ Syatrawus, 1999), 372373.

[11] Felix Klein-Franke, ‘Al-Kindi’, in History of Islamic Philosophy, Ed. Seyyed Hosein Nasr and Oliver Leaman (New York: Routledge, 2007), 311.

[12] Lihat, Kamaluddin Kamaluddin, ‘AL-Kindi: Filsafat Agama dan An-Nafs’, Aqlania 12, no. 1 (30 June 2021): 95–108, https://doi.org/10.32678/aqlania.v12i1.4392.

[13] Lihat, yulia Latifah Et Al., ‘Filsafat Ketuhanan Al-Kindi Dalam Perspektif Al-Qur’an’, Istighna 4, no. 2 (2021): 146–58, https://doi.org/10.33853/istighna.v4i2.130. Jumrohtul Wahda, ‘Filsafat Al-Kindi Dalam Memahami Teologi’, Manthiq 4, no. 1 (2019): 35–44, http://dx.doi.org/10.29300/mtq.v4i1.2998. Syihabul Furqon and Neng Hannah, ‘Metafisika Al-Kindi Dalam Fi Al-Falsafah al-Ula (Falsafah Pertama)’ 5, no. 2 (2020): 251–81, https://doi.org/10.15575/jaqfi.v5i2.9711. Edi Sumanto, ‘Tuhan Dalam Pandangan Filosuf (Studi Komparatif Arestoteles dengan Al-Kindi)’, EL-AFKAR: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Tafsir Hadis 7, no. 1 (12 June 2018): 83–90, https://doi.org/10.29300/jpkth.v7i1.1590.

[14] Lihat, Mulyadi Mulyadi, ‘Argumentasi Filisofis Al-Kindi, Ibn Rusyd, Dan Al-Farabi Tentang Kekekalan Alam’, al-Ikhtibar 7, no. 1 (2020): 766–73, https://doi.org/10.32505/ikhtibar.v7i1.614.

[15] Lihat, Wan Suhaimi Wan Abdullah, ‘Falsafah Al-Kindi Tentang Akal: Analisis Awalan Dan Terjemahan Risalah Fi Al-‘Aql’, Afkar 1, no. 1 (2000): 71–100.

[16] Isfaroh Isfaroh, ‘Konsep Kebahagiaan Al-Kindi’, Indonesian Journal of Islamic Theology and Philosophy 1, no. 1 (2019): 63–78, http://dx.doi.org/10.24042/ijtp.v1i1.4095.

[17] Misalnya seperti, Umar Umar and Indo Santalia, ‘Pemikiran Al-Kindi: Dalam Sebuah Kajian Filsafat’, Innovative: Journal Of Social Science Research 2, no. 1 (24 June 2022): 760–64, https://doi.org/10.31004/innovative.v2i1.4881. Havis Aravik and Hoirul Amri, ‘Menguak Hal-Hal Penting Dalam Pemikiran Filsafat al-Kindi’, SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i 6, no. 2 (29 April 2019): 191–206, https://doi.org/10.15408/sjsbs.v6i2.11228. Abubakar Madani, ‘Pemikiran Filsafat Al-Kindi’, Lentera 19, no. 2 (2015): 106–17, https://doi.org/10.21093/lj.v17i2.433. Cika Anugrah Septiyadi et al., ‘Truth dan Post-truth dalam Perspektif Al-Kindi pada Era Milenial’, Jurnal Intelektualita: Keislaman, Sosial dan Sains 9, no. 2 (2 July 2020): 225–32, https://doi.org/10.19109/intelektualita.v9i2.4523. Dan juga, Ida Ilmiah Mursidin, ‘Philosophical Thought of Al-Kindi and Al-Farabi’, Jurnal Al-Dustur: Journal of Politic and Islamic Law 3, no. 1 (20 May 2020): 51–66, https://doi.org/10.30863/jad.v3i1.718.

[18] Lihat, Arif Abd Fahd and Asra’ Ali ‘Udah, ‘Al-Ma’rifah ‘Inda Al-Kindī Fī al-Qirā’Āt al-Falsafiyah al-‘Arabiyah al-Muāṣirah’, Majallah Al-Falsafah Li al-Jāmi‘ah al-Mustaniriyah 2 (2018).

[19] Najati, Jiwa Dalam Pandangan Filosuf Muslim, Trans: Gazi Saloom, 22.

[20] Najati, 22.

[21] Lihat, Majid Fakhri, Tārīkh Al-Falsafah al-Islāmiyah, Trans: Kamal al-Yazījī (Beirut: Dār al-Andalūs, 1983), 109.

[22] Al-Kindī, Rasāil Al-Kindī al-Falsafiyah, Muhaqqiq: Muhammad Abd al-Hadi Abū Rīdah, 101.

[23] Al-Kindī, 101.

[24] Hisam Hayyuddin Al-Ālūsī, Falsafah Al-Kindī Wa Ārā’ al-Qudāmā Wa al-Muhadditsīn Fīh (Beirut: Dār al-Ṭalī‘ah, 1985), 30. Juga lihat, Husain Marwah, Al-Naza‘āt al-Mādiyah Fī al-Falsafah al-‘Arabiyah al-Islāmiyah (Beirut: Dār al-Fārābī, 2002), 100.

[25] Marwah, Al-Naza‘āt al-Mādiyah Fī al-Falsafah al-‘Arabiyah al-Islāmiyah, 100.

[26] Al-Kindī, Rasāil Al-Kindī al-Falsafiyah, Muhaqqiq: Muhammad Abd al-Hadi Abū Rīdah, 101.

[27] Al-Ālūsī, Falsafah Al-Kindī Wa Ārā’ al-Qudāmā Wa al-Muhadditsīn Fīh, 26.

[28] Al-Kindī, Rasāil Al-Kindī al-Falsafiyah, Muhaqqiq: Muhammad Abd al-Hadi Abū Rīdah, 101.

[29] Al-Ālūsī, Falsafah Al-Kindī Wa Ārā’ al-Qudāmā Wa al-Muhadditsīn Fīh, 26.

[30] Al-Ālūsī, 27.

[31] Lorens Bagus, Kamus Filsafat (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2005), 194.

[32] Bagus, 195.

[33] Bagus, 195.

[34] Al-Kindī, Rasāil Al-Kindī al-Falsafiyah, Muhaqqiq: Muhammad Abd al-Hadi Abū Rīdah, 101.

[35] Al-Kindī, 101.

[36] Al-Kindī, 101.

[37] Al-Kindī, 101.

[38] Al-Ālūsī, Falsafah Al-Kindī Wa Ārā’ al-Qudāmā Wa al-Muhadditsīn Fīh, 30. Juga lihat, Marwah, Al-Naza‘āt al-Mādiyah Fī al-Falsafah al-‘Arabiyah al-Islāmiyah, 100.

[39] Fahd and ‘Udah, ‘Al-Ma’rifah ‘Inda Al-Kindī Fī al-Qirā’Āt al-Falsafiyah al-‘Arabiyah al-Muāṣirah’, 50.

[40] Ahmad Fuad Al-Ahwānī, Al-Kindī Failusūf al-‘Arab (Kairo: al-Muassasah al-Miṣriyyah, n.d), 297. Al-Ālūsī, Falsafah Al-Kindī Wa Ārā’ al-Qudāmā Wa al-Muhadditsīn Fīh, 30–31. Muhammad Abdurrahman Marhaban, Al-Kindī: Falsafatuhu Muntakhabāt (Beirut: Mansyūrāt ‘Uwaidāt, 1985), 47. Juga, Kamil Muhammad Uwaidhah, Al-Kindī Min Falāsifah al-Masyriq Wa al-Islām Fī al-‘Uūr al-Wusā (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1993), 84.

[41] Al-Kindī, Rasāil Al-Kindī al-Falsafiyah, Muhaqqiq: Muhammad Abd al-Hadi Abū Rīdah, 106. Al-Ahwānī, Al-Kindī Failusūf al-‘Arab, 297. Al-Ālūsī, Falsafah Al-Kindī Wa Ārā’ al-Qudāmā Wa al-Muhadditsīn Fīh, 30–31. Marhaban, Al-Kindī: Falsafatuhu Muntakhabāt, 47. Juga, Uwaidhah, Al-Kindī Min Falāsifah al-Masyriq Wa al-Islām Fī al-‘Uūr al-Wusā, 84.

[42] Al-Ahwānī, Al-Kindī Failusūf al-‘Arab, 297. Al-Ālūsī, Falsafah Al-Kindī Wa Ārā’ al-Qudāmā Wa al-Muhadditsīn Fīh, 30–31. Marhaban, Al-Kindī: Falsafatuhu Muntakhabāt, 47. Juga, Uwaidhah, Al-Kindī Min Falāsifah al-Masyriq Wa al-Islām Fī al-‘Uūr al-Wusā, 84.

[43] Al-Kindī, Rasāil Al-Kindī al-Falsafiyah, Muhaqqiq: Muhammad Abd al-Hadi Abū Rīdah, 106.

[44] Al-Ahwānī, Al-Kindī Failusūf al-‘Arab, 298. Al-Ālūsī, Falsafah Al-Kindī Wa Ārā’ al-Qudāmā Wa al-Muhadditsīn Fīh, 30. Juga, Uwaidhah, Al-Kindī Min Falāsifah al-Masyriq Wa al-Islām Fī al-‘Uūr al-Wusā, 84.

[45] Al-Kindī, Rasāil Al-Kindī al-Falsafiyah, Muhaqqiq: Muhammad Abd al-Hadi Abū Rīdah, 106.

[46] Marhaban, Al-Kindī: Falsafatuhu Muntakhabāt, 47. Juga, Shabah Hamudi Al-Mu‘ainī, Naariyah Al-Ma’rifah Fī al-Fikr al-Falsafī al-‘Arabī al-Mu‘āir (Irak: Bait al-Hikmah, 2009), 25.

[47] Fahd and ‘Udah, ‘Al-Ma’rifah ‘Inda Al-Kindī Fī al-Qirā’Āt al-Falsafiyah al-‘Arabiyah al-Muāṣirah’, 52.

[48] Al-Kindī, Rasāil Al-Kindī al-Falsafiyah, Muhaqqiq: Muhammad Abd al-Hadi Abū Rīdah, 165.

[49] Al-Ahwānī, Al-Kindī Failusūf al-‘Arab, 298–99. Al-Ālūsī, Falsafah Al-Kindī Wa Ārā’ al-Qudāmā Wa al-Muhadditsīn Fīh, 31–38. Marhaban, Al-Kindī: Falsafatuhu Muntakhabāt, 47–48. Uwaidhah, Al-Kindī Min Falāsifah al-Masyriq Wa al-Islām Fī al-‘Uūr al-Wusā, 86–87. Juga, Majdi Kamil, Al-Kindī: Muassis al-Falsafah al-‘Arabiyah al-Islāmiyyah (Kairo: Dār al-Kitāb al-‘Arabī, 2016), 83.

[50] Al-Ahwānī, Al-Kindī Failusūf al-‘Arab, 298–99. Al-Ālūsī, Falsafah Al-Kindī Wa Ārā’ al-Qudāmā Wa al-Muhadditsīn Fīh, 31–38. Marhaban, Al-Kindī: Falsafatuhu Muntakhabāt, 47–48. Uwaidhah, Al-Kindī Min Falāsifah al-Masyriq Wa al-Islām Fī al-‘Uūr al-Wusā, 86–87. Kamil, Al-Kindī: Muassis al-Falsafah al-‘Arabiyah al-Islāmiyyah, 83.

[51] Ja’far Ali Yasin, Failusūfāni Rāidāni Al-Kindī Wa al-Fārābī (Beirut: Dār al-Andalus, 1980), 43–44. Uwaidhah, Al-Kindī Min Falāsifah al-Masyriq Wa al-Islām Fī al-‘Uūr al-Wusā, 100–104. Muhammad Jabr, Manzilah Al-Kindī Fī al-Falsafah al-‘Arabiyyah (Irak: Dār Dimasyq, 1993), 74–75. Marwah, Al-Naza‘āt al-Mādiyah Fī al-Falsafah al-‘Arabiyah al-Islāmiyah, 70–71. Juga, Kamil, Al-Kindī: Muassis al-Falsafah al-‘Arabiyah al-Islāmiyyah, 71–72.

[52] Ja’far Ali Yasin, Failusūfāni Rāidāni Al-Kindī Wa al-Fārābī, 43–44. Uwaidhah, Al-Kindī Min Falāsifah al-Masyriq Wa al-Islām Fī al-‘Uūr al-Wusā, 100–104. Muhammad Jabr, Manzilah Al-Kindī Fī al-Falsafah al-‘Arabiyyah, 74–75. Marwah, Al-Naza‘āt al-Mādiyah Fī al-Falsafah al-‘Arabiyah al-Islāmiyah, 70–71. Juga, Kamil, Al-Kindī: Muassis al-Falsafah al-‘Arabiyah al-Islāmiyyah, 71–72.

[53] Uwaidhah, Al-Kindī Min Falāsifah al-Masyriq Wa al-Islām Fī al-‘Uūr al-Wusā, 154–55.

[54] Al-Ahwānī, Al-Kindī Failusūf al-‘Arab, 116.

[55] Fahd and ‘Udah, ‘Al-Ma’rifah ‘Inda Al-Kindī Fī al-Qirā’Āt al-Falsafiyah al-‘Arabiyah al-Muāṣirah’, 54.

[56] Marhaban, Al-Kindī: Falsafatuhu Muntakhabāt, 49–50.

[57] Marhaban, 49–50.

[58] Al-Kindī, Rasāil Al-Kindī al-Falsafiyah, Muhaqqiq: Muhammad Abd al-Hadi Abū Rīdah, 372–73.

[59] Haidar Abd Al-Hasan, Atsar Al-I’tizāl Fī Fikr Failusūf al-‘Arab al-Kindī (Irak: Jāmi‘ah al-Baṣrah, 2013), 253.

[60] Marhaban, Al-Kindī: Falsafatuhu Muntakhabāt, 52–53. Juga, Uwaidhah, Al-Kindī Min Falāsifah al-Masyriq Wa al-Islām Fī al-‘Uūr al-Wusā, 154–55.

[61] Al-Kindī, Rasāil Al-Kindī al-Falsafiyah, Muhaqqiq: Muhammad Abd al-Hadi Abū Rīdah, 104.

[62] Imad Ali Al-Rifā‘ī, Al-Judzūr al-Falsafiyah Li al-Fikr al-Tarbawī ‘Inda al-Kindī Wa al-Qābisī Wa Rūsū: Dirāsah Tahlīliyah Muqāranah (Oman: Jāmi‘ah Āman, 2007), 108.

[63] Al-Rifā‘ī, 108.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *