Amir Sahidin, M.Ag
Peneliti CIOS UNIDA Gontor
Identitas Buku
Judul Buku: Mengapa Barat menjadi Sekuler-Liberal?
Pengarang: Dr. Adian Husaini, M.A
Pengantar: Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil
Editor: Harda Armayanto, M.A., Ph.D
Penerbit: Centre For Islamic and Occidental Studies (CIOS) UNIDA Gontor
Cetakan Tahun: 2024
Jumlah halaman: 58
Pendahuluan
Buku mengapa Barat menjadi sekuler-liberal yang tulis oleh Adian Husaini menerangkan tentang sebab-sebab Barat menjadi sekuler-liberal. Tulisan ini tentu menarik untuk ditelaah bersama, mengingat pembicaraan tentang mengapa, membutuhkan jawaban yang tidak sederhana. Namun, jawaban tersebut sangat penting karena pertanyaan “mengapa” akan mendorong pemikiran kritis, penjelajahan dan pemahaman yang lebih mendalam terkait apa yang ditanyakan, dalam hal ini kenapa Barat menjadi sekuler-liberal. Untuk itu, dalam kata pengantar buku ini, Hamid Fahmy Zarkasyi menyampaikan bahwa (hlm. xi), “Uraian Adian Husaini dalam buku ini penting untuk mengetahui faktor-faktor mengapa Barat menjadi sekular dan liberal. Mafhūm mukhālafah-nya, buku ini diarahkan untuk mencapai kesimpulan mengapa kita umat Islam tidak perlu mengadopsi paham ini ke dalam sistem pemikiran Islam.”
Isi Buku
Buku ini terdiri dari tiga kajian penting untuk menjawab pertanyaan mengapa dalam pendahuluan. Adian Husaini menerangkan (hlm. 3), setidaknya ada tiga faktor mengapa Barat memilih jalan hidup sekuler-liberal, dan kemudian mengglobalkan pandangan hidup dan nilai-nilainya ke seluruh dunia, termasuk di dunia Islam. Pertama, trauma sejarah, khususnya yang berhubungan dengan dominasi agama (Kristen) di Zaman Pertengahan. Kedua, problem teks Bible. Ketiga, problem teologi Kristen. Ketiga hal ini terkait satu dengan lainnya, sehingga memuncukan sikap traumatis terhadap agama, yang pada ujungnya melahirkan sikap berfikir sekular-liberal dalam sejarah tradisi pemikiran Barat modern. Adapun penjelasan ringkas dari sebab-sebab atau faktor-faktor ini adalah sebagai berikut:
Pertama: Problem Sejarah Kristen
Dalam perjalanan sejarahnya, peradaban Barat (western civilization) telah mengalami masa yang pahit, mereka sebut “Zaman Kegelapan” (the dark ages) atau “Zaman Pertengahan”. Zaman ini dimulai ketika Imperium Romawi Barat runtuh pada 476 dan mulai munculnya Gereja Kristen sebagai institusi dominan dalam masyarakat Kristen Barat, sampai dengan masuknya zaman reneissanace sekitar abad ke-14. Ketika itu, Gereja—yang mengklaim sebagai institusi resmi wakil Tuhan di muka bumi—melakukan hegemoni terhadap kehidupan masyarakat dan berbagai tindakan brutal yang sangat tidak manusiawi (hlm. 4-5). Dari hegemoni inilah lahir sebuah institusi Gereja yang sangat terkenal kejahatan dan kekejamannya, disebut sebagai “inquisisi” (hlm. 11). Selain itu, muncul praktek jual beli surat pengampunan dosa; pertarungan antar Kristen Katolik dan Kristen Protestan hingga terjadi berbagai pembantaian keji; persekutuan para tokoh agama dengan para penguasa yang menindas rakyat; dan kekejian terhadap para ilmuan (hlm. 15-20). Realita sejarah agama Kristen semacam inilah menurut Adian Husaini (hlm 21), yang kemudian membentuk persepsi kolektif tentang perlunya dilakukan “sekularisasi” dalam kehidupan masyarakat.
Kedua: Problem Teks Bible
Problem ini berkaitan dengan otentisitas teks Bible dan makna yang terkandung di dalamnya. Hebrew Bible atau Perjanjian Lama, misalnya, hingga kini penulisnya masih merupakan misteri. Hal ini sebagaimana ucapan Richard Elliot Friedman, dalam bukunya, Who Wrote the Bible, “Adalah sebuah fakta yang mengherankan bahwa kita tidak pernah tahu secara pasti siapa pembuat buku itu (Perjanjian Lama) yang telah menjalankan peran penting dalam peradaban kita” (it is a strange fact that we have never know with certainty who produced the book that has payed a central role in our civilization). Ia juga menambahi, di dalamnya dijumpai banyak sekali kontradiksi (hlm. 24-25). Sedangkan dalam Perjanjian Baru (The New Testament), juga menghadapi banyak problem otentitas teks. Prof. Bruce M. Metzger, Guru Besar bahasa Perjanjian Baru di Princeton Theological Seminary, menjelaskan ada dua kondisi yang selalu dihadapi oleh penafsir Bible, yaitu tidak adanya dokumen Bible yang original saat ini, dan bahan-bahan yang ada pun sekarang bermacam-macam, berbeda satu dengan lainnya (hlm. 25). Oleh karena itu, teks Bible menjadi sulit untuk dipahami, padahal ia adalah kitab suci pedoman hidup agama Kristen.
Ketiga: Problem Teologi Kristen
Dr. C. Groenen Ofm, seorang teolog Belanda, mencatat bahwa, seluruh permasalahan kristologi di dunia Barat berasal dari keyataan bahwa di dunia Barat, Tuhan menjadi satu problem (hlm. 32). Sepanjang sejarah peradaban Barat, terjadi banyak persoalan serius dalam perdebatan teologis, seperti masalah trinitas, hari beribadah, soal syahadat Katolik, dan lain sebagainya. Selain itu, di Zaman Pertengahan, rasio harus disubordinasikan pada kepercayaan Kristen. Problem yang kemudian muncul adalah ketika para ilmuan dan pemikir diminta mensubordinasikan dan menundukkan semua pemikirannya kepada teks Bible dan otoritas Gereja, karena justru pada keduanya itulah terletak problem itu sendiri (hlm. 33). Di samping menghadapi problem otentisitas, Bible juga memuat hal-hal yang bertentangan dengan akal dan perkembangan ilmu pengetahuan. Sejumlah ilmuan akhirnya mengalami benturan dengan Gereja dalam masalah ilmu pengetahuan, seperti Gelileo Galilei (1546-1642) dan Necolaus Copernicus (1473-1543). Bahkan Giordano Bruno (1548-1600), pengagung Nicolaus Copernicus, dibakar hidup-hidup (hlm. 34). Akhirnya problem teologis Kristen, problem teks Bible, dan juga pengalaman Barat yang mengerikan terhadap hegemoni Gereja selama ratusan tahun telah membentuk sikap ‘traumatis’ mereka terhadap agama Kristen (hlm. 46).
Selain tiga kajian penting tersebut, di akhir paparan kajian, Adian Husaini menasehati, jika perbedaan konsepsi dan sejarah antara teologi Kristen dengan Islam, benar-benar dikaji secara cermat, seyogyanya tidak perlu ada kalangan Muslim yang latah menyebarkan paham sekularisme, pluralisme agama, metode kajian Bible untuk Al-Qur’an dan sebagainya. Penjiplakan yang membabi-buta terhadap tradisi Kristen-Yahudi—hanya karena terpesona oleh kemajuan fisik peradaban Barat—bisa dikatakan sama dengan upaya bunuh diri (masuk ke lubang biawak) bagi Islam (hlm. 47-48).
Catatan dan Penutup
Dengan 47 referensi, buku tipis sebanyak 58 halaman ini tentu memiliki kelebihan tersendiri baik dalam penyajian data maupun analisisnya. Terlebih lagi karya ini merupakan salah satu bagian dari disertasai doktoral penulis, yang mengupas tentang wajah peradaban Barat; dari hegemoni Kristen ke dominasi sekular-liberal. Semua ini, menunjukkan betapa penting dan berharganya kandungan isi buku ini. Namun, layaknya sebuah karya manusia, tantu buku ini tidak terlepas dari kekurangan. Salah satunya adalah, penulis nampaknya hanya berfokus pada tiga faktor internal yang melatarbelakangi Barat menjadi sekuler-liberal, padahal ada faktor-faktor internal lainnya ataupun eksternal seperti munculnya paham-paham dan teori-teori yang meniadakan Tuhan, yang turut berperan menyebabkan Barat menjadi sekuler-liberal.
Akan tetapi, terlepas dari kekurangan minor tersebut, buku ini sangat layak menjadi rujukan utama bagi para cendekiawan untuk memahami Barat secara adil, mendalam dan dapat dipertanggungjawabkan. Dari sini dapat dimaklumi, bahwa proses Islamisasi ilmu pengetahuan atau pengembalian Barat menuju fitrahnya yang benar pun pasti memerlukan waktu yang lama, sebagaimana traumatis mereka terhadap hegemoni Gereja berabad-abad lamanya. Akhirnya, semoga resensi ini bermanfaat, dan bagi yang menginginkan untuk membeli buku bermanfaat ini, dapat mengubungi atau mendatangi CIOS Unida Gontor.







